Beranda » Ekoteologi: Upaya Agama Memelihara Lingkungan

Ekoteologi: Upaya Agama Memelihara Lingkungan

by Diki Ahmad

Kehidupan manusia di alam semesta penuh dengan keterbatasan, baik terbatas ruang, waktu, maupun daya aktif tubuh manusia itu sendiri. Sejatinya, ruang alam semesta tempat manusia eksis telah menyediakan segala potensi alam untuk dimanfaatkan. Sebab kenyataannya, apapun yang ada di alam semesta ini merupakan anugerah dari Tuhan untuk makhluknya, meskipun sebagian besar yang paling banyak menerima manfaat adalah manusia. Setidaknya, dengan potensi bentuk fisik dan akal yang dimilikinya, jika dibandingkan dengan makluk lainnya, manusia lebih berpotensi dan lebih mampu merayu, merawat, melestarikan, menjaga, memiliki, mengeksploitasi, menguasai, dan bahkan menaklukkan lingkungannya. Walaupun dengan batasan fisik dan akal yang dimilikinya pula manusia menyadari bahwa agenda mereka terhadap ruang lingkungannya sangat dibatasi oleh masa hidupnya yang relatif singkat.

Dari dahulu hingga sekarang, manusia dari berbagai macam latar belakang bangsanya, agamanya, sukunya, dan kelompoknya tengah berlomba-lomba untuk memperebutkan lingkungan alam beserta potensi yang dimilikinya. Mereka rela memperjuangkan hal itu dengan keringat, darah, dan bahkan dengan nyawanya sekalipun. Untuk mendapatkannya, satu atau sekelompok manusia rela berkonflik dengan hewan, alam, manusia lainnya, atau bahkan dengan perintah/larangan dari Tuhannya. Reproduksi dan regenerasi merupakan alasan utama manusia melakukan hal-hal tersebut. Semuanya mereka lakukan demi harga diri, martabat, dan kehormatan umat atau golongannya.

Untuk mendapatkannya, satu atau sekelompok manusia rela berkonflik dengan hewan, alam, manusia lainnya, atau bahkan dengan perintah/larangan dari Tuhannya

Dalam perkembangannya, manusia telah melalui berbagai macam kondisi tantangan zaman. Dari hal itu pula, manusia senantiasa tertantang untuk mencari solusi suatu permasalahan yang sedang dihadapinya. Adapun agama juga berfungsi sebagai salah satu cara manusia untuk mengatasi permasalahan yang ada, termasuk permasalahan pada dirinya sendiri seperti keserakahan, eksploitasi, dan kerakusan manusia atas sumber daya.

Tidak ada salahnya bagi sekelompok orang yang memanfaatkan sumber daya mengembangkan suatu teknologi untuk memudahkan pekerjaan, namun tetap harus dalam pengawasan agama, budaya, dan nilai-nilai luhur lainnya sehingga manusia senantiasa diingatkan dengan dampak yang mungkin terjadi. Dengan demikian, penggunaan sumber daya dapat digunakan dengan arif dan bijak. Selain itu, yang terpenting adalah menjaga hubungan dengan Tuhan (hablun minallah), karena sesungguhnya alam semesta ini adalah amanah dari Tuhan.

Ada tiga cara pandang seseorang dalam melihat potensi alam, yaitu pandangan magis, agama, dan kapitalis. Pertama, dalam sudut pandang magis, dengan ritual pengorbanan tertentu, alam dapat dirayu agar alam memberikan kekuatannya atau agar roh alam tidak murka terhadap manusia sehingga tidak timbul bencana. Misalnya pengorbanan atau persembahan sesajen kepada ratu pantai selatan dengan harapan sang Ratu tidak murka dengan mengambil nyawa seseorang yang sedang bermain di pantai. Kedua, dalam sudut pandang kapitalis, alam merupakan sesuatu yang harus ditaklukkan dan dikuasai dengan mengambil segala potensi yang dimilikinya. Misalnya, pantai merupakan sumber daya alam yang dapat menghasilkan banyak keuntungan mulai dari ikannya, terumbu karangnya, tanaman lautnya, pasirnya, dan lain-lain. Sayangnya, tanpa bimbingan agama dan spiritual yang cukup, kebanyakan cara yang kedua ini hanyalah demi kesenangan sekelompok orang atau malah demi kesenangan pribadi. Terakhir, dalam sudut pandang agama. Agama sebenarnya berada di antara magis dan kapitalis, walaupun agama sendiri sulit untuk didefiniskan sikapnya terhadap alam, karena sudut pandang agama akan sangat bergantung pada sistem ajaran agama tersebut. Bagi penganut animisme, alam harus dijaga karena di alam terdapat roh yang mereka sembah. Bagi aliran panteisme, alam dan Tuhan adalah identik, sehingga merusak alam sama saja dengan merusak Tuhan. Oleh karena itu, agar tidak terlalu sulit menganalisisnya, maka akan dipilih agama Islam sebagai contohnya.

Ada tiga cara pandang seseorang dalam melihat potensi alam, yaitu pandangan magis, agama, dan kapitalis.

Dalam Islam, manusia berfungsi sebagai abdun (penyembah) sekaligus khalifah (pengelola) di muka bumi. Misalnya, pantai dimaknai sebagai anugerah Tuhan yang potensi sumber daya alamnya dapat dikelola oleh umat manusia. Di satu sisi diambil manfaatnya, tetapi di sisi lain juga dijaga kelestariannya. Wujud terimakasih atas hasil dari laut tersebut kemudian diekspresikan dengan beribadah sebagai ungkapan rasa syukur. Hal ini guna meningkatkan kesadaran dan ketakwaan kepada Allah. Selain itu, sebagian harta yang didapatkan dari hasil alam juga dizakatkan, diinfaqkan, dan disedekahkan sebagai wujud dari amal shaleh.

Dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan, manusia beragama mempunyai tiga model: pertama, agama yang berangkat dari ketakutan kepada Tuhan akan melakukan persembahan; kedua, agama yang berangkat dari kecintaan kepada Tuhan akan melakukan pemujaan; ketiga, agama yang berangkat dari ketakutan sekaligus kecintaan kepada Tuhan akan melakukan persembahan sekaligus pemujaan. Islam adalah tipe yang ketiga. Setidaknya, hal tersebut terimplementasikan dalam shalat sebagai peribadatan utama umat Islam karena dalam shalat selain memuja dan memuji Tuhan, juga mempersembahkan hidup (mahyaya) dan mati (mamati) untuk Allah Yang Maha Memelihara alam. Kemudian, semua itu teraplikasikan dalam bentuk pekerjaan. Bekerja tulus ikhlas demi masa depan kehidupan semesta yang lebih baik. Oleh karena itu, umat beragama, khususnya kaum muslimin, mempunyai peluang besar dalam memelihara alam.

Kerusakan alam yang belakangan ini terjadi, sebenarnya merupakan tanggung jawab seluruh umat manusia tidak terkecuali umat beragama. Sayangnya, masih banyak ormas-ormas agama yang belum mempunyai kepedulian sampai ke sana, bahkan beberapa hanya lebih peduli terhadap satu komunitas agamanya saja. Ketika ada bencana alam seperti tsunami, kabakaran hutan, dan wabah, kebanyakan yang bergerak adalah lembaga-lembaga sosial dan lembaga filantropi non-agama. Namun belakangan ini telah banyak pula ormas-ormas agama mendirikan lembaga filantropinya seperti BAZNAS, LAZISNU, LAZISMU, dan lembaga-lembaga filantropi keagamaan lainnya.

Kerusakan alam yang belakangan ini terjadi, sebenarnya merupakan tanggung jawab seluruh umat manusia tidak terkecuali umat beragama.

Kerusakan lingkungan dalam suatu masyarakat bisa jadi terjadi secara alami atau akibat perbuatan manusia itu sendiri. Kerusakan lingkungan yang sifatnya alami bisa terjadi karena gempa bumi, badai, hujan deras, dan gejala-gejala alam lainnya. Sedangkan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh manusia antara lain: pembangunan pabrik industri, pembangunan hotel, pembangunan bandara, eksploitasi hutan, eksploitasi pertambangan, dan sebagainya, karena hal itu akan berdampak pada sanitasi lingkungan dan sumber mata pencaharian masyarakat. Kerusakan lingkungan dalam suatu masyarakat merupakan musibah, di mana masyarakat yang terdampak biasanya mengalami kehilangan mata pencahariaannya, harta kekayaannya, dan bahkan anggota keluarganya. Pada dasarnya, mereka yang terdampak adalah orang-orang yang perlu mendapatkan pembelaan, karena hak-haknya telah terenggut.

Namun sebenarnya, hal yang masih sangat sulit diterima adalah ketika segelintir orang melakukan eksploitasi terhadap ekosistem tertentu, lalu setelah ada musibah sambil melepas tangan ia berkata “sungguh musibah ini adalah ujian dari Tuhan!”. Bagi penulis, hal tersebut lebih keji jika dibandingkan dengan sekedar menginjak dan membakar kitab suci atau hal-hal sakral lainnya dalam agama, karena hal tersebut merupakan penghinaan bagi Tuhan, bukan? Meskipun penulis juga menyadari bahwa Tuhan tidak perlu dibela karena kekuasaan Tuhan tidak akan rontok sekalipun dihina oleh seluruh umat manusia. Namun, bukankah perbuatan itu sama saja dengan mengakui diri adalah Tuhan? Karena sejatinya musibah yang tengah terjadi adalah akibat dari keserakahan seseorang atau segelintir orang tersebut. Adapun sebagai muslim, penulis tahu betul kalau perbuatan syirik sulit terampuni. Terlebih lagi pengakuan sebagai Tuhan disanjungkan pada dirinya sendiri, walaupun tidak disadari secara langsung.

Memang agak sulit bagi sarjana agama untuk membantu advokasi kasus seperti ini. Mengingat, sarjana agama tidak terbiasa dihadapkan pada teori-teori demikian. Namun, apabila berkaca pada bagaimana ormas-ormas agama memberikan bantuan melalui lembaga filantropi yang dimilikinya, hal itu justru bisa menjadi kesempatan para sarjana agama agar bisa berada di lapangan dan mengamati segala sesuatu yang terjadi. Dengan demikian, seseorang akan mampu mengadvokasi masyarakat yang sedang menjadi korban agar memperoleh kambali hak-haknya. Caranya, dengan menuntut kepada pemerintah atau suatu lembaga tertentu yang menjadi biang keladi permasalahan agar masyarakat mendapatkan kembali haknya dan pelaku menunaikan kewajibannya.

Perlu disadari bahwa sikap manusia terhadap lingkungannya bisa menunjukkan dua wajah. Di satu sisi memelihara, memperbaiki, dan menciptakan, namun di sisi lain juga merusaknya. Tidak ada salahnya bagi manusia memiliki sumber daya tertentu, karena pada dasarnya semua yang ada di dunia ini merupakan karunia dari Tuhan. Dari kepemilikan manusia atas alamnya, mereka berhak mengelolanya untuk keberlangsungan hidup. Akan tetapi, kontrol atas penggunaannya juga perlu diperhatikan demi kemaslahatan manusia secara keseluruhan.

Perlu disadari bahwa sikap manusia terhadap lingkungannya bisa menunjukkan dua wajah. Di satu sisi memelihara, memperbaiki, dan menciptakan, namun di sisi lain juga merusaknya.

BACA JUGA

2 comments

Wahidah Fahmy 7 Juli 2021 - 13:04

Alhamdulilah memberi banyak pelajaran.Terima kasih sudah mengingatkan hal yang mungkin dipandang sebelah mata setengah orang

Reply
Diki Ahmad 19 Juli 2021 - 18:53

Terima kasih

Reply

Leave a Comment