Beranda » Emosi dan Berpikir Sehat

Emosi dan Berpikir Sehat

by Cak Emye

Sabda Nabi Idris As yang berbunyi, “Bagi siapa saja yang tidak menguasai akalnya, maka ia tidak menguasai emosi amarahnya”. Memberitahukan bahwa akibat dari tidak mampu menguasai akal ialah ketidakmampuan menguasai emosi. Dengan kata lain, sebab orang emosi ialah ia tidak menguasai akalnya sendiri.

Fenomena di era ini, memperlihatkan jika manusia  lebih mendasari emosi bagi segalanya mulai dari berpikir sampai bergeraknya. Padahal dari sabda di atas, berpikir jika dilandasi emosi bisa dikatakan juga ia hakikatnya tidak berpikir karena ia tidak menggunakan akalnya.

Bagaimana ia ingin menggunakan akalnya jika ternyata emosi lebih dahulu menguasai akalnya.  Emosi sendiri ibarat hijab bagi berpikir. Ia menutupi alat-alat penalaran kita dari sumber-sumber pengetahuan yang bisa dipertanggungjawabkan. Sehingga, akal hanya dijejali oleh pengetahuan-pengetahuan sudah menjadi debu karena hangus dibakar emosi. Akhirnya, akal tidak berfungsi dan kesimpulannya pun tidak lah objektif.

Dalam dunia sains, seorang ilmuwan harus menjaga jarak dari objek yang akan dinilainya, maksudnya dia mesti menaruh asumsi-asumsi yang berkecendrungan pada satu hal yang akan membuat penilaian tidak objektif.

Dalam sains, para ilmuwan melihat objek apa saja dengan  tidak melihat embel-embel latar belakang agama, sosial, dogma, kita suka atau tidak suka, senang atau benci, karena mereka melihat objek sebagaimana objek itu sendiri. Mereka tahu jika asumsi yang berpihak pada satu hal akan merusak penilaiannya pada objek tersebut. Apalagi faktor kebencian dan emosi amarah mendasari, bisa-bisa penilaian akan salah dan sesat.

Di keseharian kita, sering dikatakan dalam penilaian mesti dilalui dengan kepala dingin. Maksud kepala dingin di sini, menurut saya, ialah melepaskan asumsi dan emosi kita dalam penilaian kepada objek apa saja. Apalagi menyangkut manusia yang hanya diketahui melalui indikasi yang terkadang indikasi tersebut tidak mampu menjabarkan apa yang ada di benak objek manusia tersebut.

Salah satu contohnya, dalam dunia sufi terkenal kisah seorang laki-laki yang sering masuk bar dan tempat perzinahan sehingga manusia sekitarnya menilainya sebagai lelaki pemabuk dan pezina, padahal laki-laki tersebut berniat bukan untuk mabuk ataupun berzinah, malahan dia masuk hanya untuk membeli khamr-khamr untuk dibuang dengan maksud mengurangi orang-orang untuk mabuk, dan dia masuk ke tempat perzinahan dan membayar wanita-wanita penghibur dengan maksud agar wanita-wanita itu tidak melayani siapapun karena malam itu sudah dibayar olehnya yang ia tanpa sedikit pun menyentuhnya. ini membuktikan jika orang mesti dinilai secara berhati-hati dalam berpikir agar tidak jatuh pada kesimpulan yang salah sehingga menjadi fitnah.

Dalam kaidah ushul fiqh ada kaidah lafal itu tergantung pada maksud pelafal (al-lafdz ‘ala niyyah al-lafidz), maksudnya sebelum kita menilai kita terlebih dahulu harus mendapatkan klarifikasi yang jelas dari pihak pelafal dan bukti yang mendukung klarfikasi tersebut. Akan tetapi, terkadang kita sudah terburu-buru menilai langsung tanpa melalui proses berpikir yang jernih karena api emosi sudah terlebih dahulu menyala ketimbang cahaya akal. Akibatnya, kita jatuh dalam proses berpikir yang salah.

Berpikir salah sendiri diakibatkan oleh cara dan alat berpikir yang salah dikarenakan cara dan alat berpikir itu dikesampingkan oleh emosi yang menyala-nyala. Logika sebagai alat berpikir, menjelaskan bahwa berpikir merupakan proses gerak mental dari tidak tahu menjadi tahu. Sedangkan apabila berpikir dengan dilandasi emosi akan cenderung untuk bermaksud menyalahkan dan menghinakan objek, bukan untuk betul-betul tahu. Maka orang-orang yang merasa berpikir tapi dia sudah dilandasi emosi maka dia sebetulnya tidak berpikir karena berpikir adalah proses dari tidak tahu menjadi tahu, bukan proses menyalahkan sehingga menjadi hina dan menyesatkan.

Menurut para ahli mantiq, proses berpikir bisa salah dikarenakan pemahaman-pemahaman terkait objek yang belum kita ketahui itu, pada dasarnya salah atau ternyata pemahaman tersebut berasal dari hoax sehingga menyebabkan berpikir pun menjadi salah. Selain itu, disebabkan pula dari kesalahan cara menyusun pemahaman-pemahaman terkait objek tersebut, akibatnya pengetahuan terkait objek tersebut tidak sesuai sekalipun pemahaman yang disusunnya adalah benar.

Singkatnya, proses berpikir mesti melihat tiga hal, pertama pemahaman-pemahaman yang menyuling ketidak tahuan mestilah sudah dibuktikan dan dapat dipertanggungjawabkan terlebih dahulu. Kedua, cara menyusun pemahaman tersebut tidak boleh serampangan dan mesti disusun secara hati-hati dan apik melalui perenungan-perenungan rasional. Ketiga, sebelum berpikir hendaknya mendinginkan terlebih dahulu dari emosi-emosi yang akan merusak proses berpikir.

BACA JUGA

Leave a Comment