Beranda » Solon dan Tiga Perkara Paling Sulit

Solon dan Tiga Perkara Paling Sulit

Oleh Muhay Ya Salam (Direktur Eksekutif Sekolah Filsafat Averroes)

by Cak Emye

Sosok Solon yang masyhur dalam dunia kepenyairan klasik, puisi-puisinya berisikan hal ihwal kesenangan serta berisi propaganda patriotik yang dijadikan sebagai pembelaan atas reformasinya. Suatu waktu, pernah ada yang bertanya kepada Solon tentang apa perkara yang paling sulit dilakukan manusia. Dalam Shiwan al-Hikmah karya al-Sijistani, Solon yang dikenal salah satu dari petapa agung ini menjawab bahwa ada tiga perkara yang sulit dilakukan oleh manusia.

Pertama, mengenal diri sendiri. Dalam tradisi tasawuf, ada hadits yang populer yang berbunyi, “Bagi siapa yang mengetahui dirinya maka dia akan mengetahui Tuhannya.” Proses mencari tahu tentang jati diri ini bukanlah perkara yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Buah dari mengetahui diri sendiri sangatlah agung, karena apabila pencarian makna diri itu sudah didekap, pengetahuan hakikat tentang diri akan didapat, dan hasil akhirnya ialah pengetahuan Tuhan akan tersingkap.

Jikalau hijab lintas Khalik-makhluk itu sudah tersingkap, manusia akan mendapatkan kebahagiaan yang abadan-abidin di manapun tempatnya. Kebahagiaan abadi adalah hadiah terbesar, teragung, dan hal yang paling diinginkan oleh setiap insan.

Persoalannya, tidak semua orang mendapatkan kebahagiaan abadi ini, karena kebahagiaan seperti ini menyaratkan usaha yang keras, keistikomahan, dan kesabaran dalam jalan yang penuh rintang-kesulitan bagi para pendaki yang menginginkannya. Jadi, wajar saja, jika Solon menganggap mengenali diri adalah hal pertama yang sulit kita lakukan. Bagaimanapun semakin besar hasilnya, maka semakin sulit jalannya.

Kedua, menyimpan rahasia. Dalam benak manusiawi, orang yang tidak mampu menjaga rahasia adalah orang-orang yang tidak berhak untuk diberikan amanah. Kita ketahui juga bahwa setiap manusia pastinya memiliki rahasia yang bersifat buruk atau baik yang jika menjadi hal konsumsi publik maka ia akan terbakar hingga tak tak tersisa. “Jagalah rahasia temanmu,” tulis Imam Al-Ghazali, “tutupilah keburukannya dan diamlah jangan memperbesar kesalahannya yang sedang dibicarakan oleh orang lain.”

Menjaga rahasia mungkin masih dianggap enteng dan semua orang akan mengatakan mampu jika diamanahi sebuah rahasia, namun bagaimana kondisinya jika kita diiming-imingi keuntungan apabila membeberkan rahasia tersebut atau rahasia itu dituntut, dipaksa, dan diancam dengan segala hal. Pada keadaan tersebutlah menjaga rahasia adalah sesuatu yang sulit namun mulia. Sebab, menjaga rahasia berarti menolong seseorang dari kematian. bagi orang yang dihormati, aib lebih buruk dari kematian, begitulah Bhagavad Gita menuturkan.

Menjaga rahasia orang lain secara teologis memberikan buah pada hari di mana semua rahasia disingkap, sebagaimana Rasulullah pernah andika dalam sebuah hadisnya yang berbunyi, “Tiada seseorang yang menutup (cacat) seseorang di dunia, melainkan kelak di hari kiamat Allah pasti akan menutupi (cacat)nya.”

Ketiga, menahan diri dari ucapan yang tidak semestinya. Berbicara kebaikan atau ikat mulut dengan semampunya karena terkadang seekor ikan dengan mulut yang tertutup tidak akan pernah tertangkap oleh mata kail pancing yang mengikat.

“Malapetaka menimpa binatang selain manusia,” kata Socrates, “karena mereka tak dapat berbicara dan malapetaka menimpa manusia karena mereka terlalu banyak bicara.” Maka tahanlah diri untuk banyak bicara, apatah lagi berbicara yang tidak semestinya secara moral maupun agama.

Imam Ali dalam Nahjul Balaghah, hikmah keenam puluh mengatakan, “Tidak ada sesuatu apa pun yang lebih berhak dipenjarakan lebih lama daripada lidah.” Karena memang lidah ini ibarat binatang buas yang haus darah yang apabila kita tidak menjaga dari binatang buas ini maka kita lah yang akan dimangsa dan binasa. Karena juga lidah tidak bertulang, menjaga ucapan dianggap cukup sulit dan memerlukan pelatihan yang didasari kesadaran akan keberadaan Tuhan di setiap helaan nafas sehingga kita sadar di setiap derap langkah.

Tiga hal yang paling sulit tersebut bukan berarti tidak dapat dikerjakan, namun ketiganya memerlukan kesadaran tinggi, latihan, dan konsistensi. Apabila tiga hal tersebut mampu dilaksanakan maka kemuliaan dan kebahagiaan secara vertikal maupun horizontal akan diraih.

Wa Allah A’lam bi al-shawwab.

BACA JUGA

Leave a Comment